Agen Bola

Senin, 16 Februari 2015

Krisis Ekonomi Asia 1998 dan Penyebabnya



www.yukitabet.com



Secara tekhnis masalah ini bermula di Thailand, saat itu nilai Baht di peg terhadap USD (Nilainya di patok dan dijaga oleh bank sentral).

ASEAN dan Asia pada umumnya kecuali Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi pada era 90'an, hal ini membuat investor - investor dari mancanegara berlomba - lomba untuk berinvestasi diwilayah ini.

Indonesia sendiri telah menderegulasi peraturan perbankan dan penanaman modal asing melalui Pakto'88 (Paket Oktober 1988) dan PakDes'89 (Paket Desember 1989) sehingga memudahkan investasi asing masuk dan menanamkan modal

Disaat inilah pertumbuhan ekonomi Indonesia pernah melejit hingga 8,9 % dan menjadikannya salah satu negara macan kecil asia.

Namun pertumbuhan ekonomi dan investasi asing yang masuk ini menimbulkan masalah baru yaitu masalah inflasi yg ditangani dengan dinaikannya bunga simpanan oleh Bank Sentral negara-negara Asia pada umumnya.

Alhasil bunga kredit jg ikut-ikutan naek dan gap antara perbedaan bunga di negara-negara asia dan amerika/eropa membesar hingga berbeda 6-10 %. Perbedaan bunga dan deregulasi perbankan ini dimanfaatkan pelaku industri/pebisnis untuk meminjam uang / modal dari luar negeri yg lebih murah.

Ini membuat posisi hutang nasional (hutang nasional adalah total kewajiban nasional yaitu kewajban hutang negara + hutang swasta) meningkat. Keadaan ini yang nantinya menyebabkan kehancuran ekonomi negara - negara asia ketika nilai tukar mereka terhadap USD jatuh menyebabkan hutang mereka menjadi meningkat berkali-kali lipat dalam mata uang lokalnya (dalam kasus Indonesia meningkat antara 4-6 kali lipat).

Pada tahun 1990-1995, Thailand merubah ekonomi mereka dengan membangun Agro industri berbasis ekspor dengan sangat aggresif, hal ini membutuhkan modal besar yang dimana pada saat itu pemerintah mereka membentuk yg disebut Bangkok International Banking Facility, pada dasarnya BIBF ini adalah bank yang memberikan pinjaman- pinjaman bagi proyek - proyek yang disetujui pemerintah Thailand, namun pembiayaan BIBF ini didapat dari bank - bank asing di amerika dan eropa. 

Akibat hal ini BIBF memiliki total hutang sebesar USD 100 millyar hanya dalam waktu 2 tahun saja.

Hal ini diketahui oleh para pelaku pasar dan mereka memprediksi bahwa cadangan pemerintah Thai hanya sekitar USD 30 millyar saat itu, Jika pemerintah Thailand berusaha terus mempertahankan nilai tukar Baht yang dipeg saat itu dengan nilai tukar 1 USD = 25 baht maka mereka hanya akan mampu menahan banjir baht sebesar 750 Millyar baht saja.

Disini ada satu pemain pasar yang paling menonjol yaitu George Soros, dia membeli bath dari pasar Internasional baik yang berupa uang tunai maupun obligasi, Tindakan yang dilakukan dibaca para spekulator lainnya yang juga melakukan hal serupa bahkan betting melalui kontrak - kontrak forward dan short selling bahwa bath akan jatuh.

Tekanan ini sudah terasa ketika memasuki 1997 dan suatu keadaana yang disebut financial stand-off terjadi, pelaku pasar menunggu reaksi pemerintah Thailand apakah mereka akan mempertahankan nilai tukar atau tidak.

Pemerintah Thailand saat itu tetap bersikukuh mempertahankan nilai Bath di peg 25 bath/USD untuk melindungi industri ekspor yang baru saja mereka bangun dengan biaya 100 millyar USD melalui mekanisme BIBF.

Karena itu maka para spekulator yg dimotori Soros membanjiri pasar dengan Bath, pemerintah Thailand berusaha mati - matian mempertahankan nilai tukar mereka terhadap USD namun setelah hampir 1/2 tahun Bank Sentral Thailand mempertahankan nilai Bath akhirnya mereka menyerah dan tidak berdaya terhadap aksi "Goreng Mengoreng" yang dilakukan para spekulator yang domotori Soros. 

Cadangan Devisa Thailand dari USD 30 millyar habis terpakai dan menyisakan hanya USD 2 millyar saja dan pemerintah Thailand tidak mampu lagi mengintervensi pasar.

Akhirnya mereka meminta bantuan IMF dan pinjaman lainnya dan berhasil mengumpuilkan dana sekitar USD 17 millyar untuk membayar obligasi mereka yang jatuh tempo sebesar USD 7 millyar ditahun itu. Nilai tukar mereka nangkring diposisi 56 bath/USD, lebih dari 600.000 orang kehilangan pekerjaanya, GDP mereka terpangkas 65 % dan ekspor mereka anjlok 75 %.

Ini adalah yang memicu terjadinya krisis finansial di asia pada 1997.

Setelah Baht berikutnya Rupiah dan kemudian Ringgit yang jadi korban dengan mekanisme yang mirip - mirip..

Berbeda dengan Thailand yang melakukan pengging sebenarnya Ringgit Malaysia dan Rupiah tidaklah dipegging dengan nilai USD, walaupun BI sering melakukan operasi pasar untuk menjaga rupiah diambang Rp 2.500 - Rp 3.000 / USD saat itu.

Indonesia dipandang sebagai negara dengan ekonomi yg lebih kuat dibanding Thailand dan Malaysia karena cadangan devisa kita yang lebih besar dan surplus trading yang signifikan. 

Yg jadi masalah dalam hal ini sekarang adalah faktor kepercayaan apakah yang akan dilakukan pemerintah. Pemerintah kita yang walaupun tidak secara resmi menerapkan pegging namun suka mengintervensi pasar memberikan signal bahwa mereka nyaman untuk membiarkan rupiah "Floating" diantara 8 - 12 %.

Berbeda dengan Thailand yang dalam 1 malam langsung dibanjiri Baht dan besoknya collapse, Indonesia tidak diperlakukan begitu tetapi para Spekulator ini "Poking around" Indonesia dengan menjual Rupiah yang mereka pegang kepasar dan membuat nilai tukar Indonesia mulai melemah pelan - pelan.

Dari Rp 2500 pada awal April 1997 hingga mencapai Rp 3000 pada agustus 1997, mereka mencari kapan kira - kira BI menjadi tidak nyaman dan mulai mengintervensi.

Pemerintah Indonesia tetap tidak mengintervensi dan hanya melakukan kebijakan struktural untuk menguatkan perbankan dengan menurunkan suku bunga SBI dan memberikan akses Overnight call pada bank - bank yang membutuhkan likuiditas, jg sebagai bagian dari rencana taktis mereka menghubungi IMF untuk menaikan kepercayaan pasar.

Pada oktober 1997, Rupiah terus merayap melemah menjadi Rp 3600/USD.

Respon pemerintah pada 1 Nov 1997 akhirnya adalah melakukan merger bank - bank swasta dan nasional terutama yang bleeding agar tidak membuat rupiah terus melemah, dengan kebijakan ini dalam 1 minggu berikutnya Rupiah menguat dan tampaknya untuk sementara serangan para spekulator berhasil dipatahkan.

Nah masalah berikutnya ini bukan masalah ekonomi tapi masalah politik dan pemerintahan yang bikin Indonesia nyungsep lagi, kebanyakan hutang swasta dan bank - bank yang bleeding ini dimiliki oleh keluarga cendana, seperti Bambang, Probosutejo, Tommy, dll. 

Ketika restrukturisasi dilakukan mereka melakukan tebang pilih, perusahaan - perusahaan/Bank -bank yang udah kropos dibiarkan diambil/dimerger pemerintah yang mengakibatkan pemerintah mengambil alih hutang - hutang tersebut dan kewajibannya, sementara yang masih ada assetnya dipertahankan dan bahkan mereka melakukan gugatan hukum untuk hal ini.

Kebetulah jg saat itu Ramadhan 1998 jatuh diawal tahun dan seperti biasanya di Indonesia kalo udah deket begitu yang namanya inflasi pasti meningkat dan bunga juga pasti meningkat untuk meredam inflasi. 

Hal ini dibaca para spekulator bahwa Indonesia mulai kekurangan likuiditas yang menyebabkan mereka mulai lagi membeli USD dari pasar Indonesia dan menjual asset2x yang divaluasi dalam rupiah menyebabkan rupiah tertekan dan jatuh ke level Rp 4000 dalam 1 minggu setelah sempat menguat.

IMF menjanjikan bantuan senilai USD 43 millyar buat Indonesia namun Soeharto yang saat itu masih tarik-ulur untuk menandatangani kesepakatan IMF itu membuat pasar tidak tenang dan sekarang bukan para spekulator namun mereka yang benar - benar membutuhkan dollar membeli dollar untuk menjaga kemungkinan terburuk.

Hal ini ditambah dengan disaat yang sama Alan Grenspan menaikan suku bunga the Fed secara berturut - turut menyebabkan para investor menilai US adalah tempat yang lebih baik untuk menyimpan investasi mereka dibanding asia yang bermasalah, akibatnya lebih dari USD 150 millyar modal terbang dari asia tenggara, diperkirakan senilai USD 40-50 Millyar berasal dari Indonesia. yang terjadi membuat Rupiah langsung melorot sampai Rp 24.000 dan akhirnya persetujuan dengan IMF ditanda tangani.

Perjanjian dengan IMF mengharuskan Indonesia menerapkan "Austerity Measures" yang menyengsarakan rakyat dan akhirnya dalam waktu 1/2 tahun menggulingkan kekuasaan Soeharto dan menyebabkan kerusuhan di ibukota dan kota - kota lain.

Serangan para spekulator ini baru bisa dihentikan setelah PM Mahatir Mohammad dari Malaysia melakukan langkah berani untuk tidak bernasib sama seperti Thailand dan Indonesia, dia langsung menutup perdagangan Ringgit yg membuat Ringgit saat itu tidak dapat ditransaksikan / ditukarkan dalam mata uang asing.

Arus modal langsung ditutup, pasar modal dihentikan, kebijakan kontrol modal langsung diberlakukan dan semua pergerakan modal dalam mata uang asing harus mendapatkan ijin dari Bank Negara Malaysia. 

Hal ini membuat para spekulator tidak dapat membeli Ringgit dipasar internasional dan oleh sebab itu tidak dapat digunakan untuk menyerang ekonomi Malaysia, namun disaat yang sama para importir diMalaysia tidak dapat membayar barang mereka yang menyebabkan tuntutan hukum dan penalti dari mitra dagang mereka di luar negeri dan banyak negara terutama US dan EU memprotes kebijakan ini karena berdampak pada bisnis penduduk mereka yang menjadi eskportir ke Malaysia.

Hal ini jg membuat saham - saham perusahaam Malaysia tidak dapat divaluasi di Luar Negri, efektif mematikan perusahaan - perusahaan Malaysia di pasar Internasional.

Total kerugian yang ditimbulkan diperkirakan mencapai USD 5 Millyar, namun ketika ditanya Mahatir menjawab bahwa kalau tidak diberlakukan begitu maka kerugiaan Malaysia mungkin bisa 10x lipat lebih besar.

Sektor finasnial Malaysia langsung beku karena trading tidak mungkin dilakukan dan kebijakan kontrol modal mempersulit perdagangan sekuritas dan FX.

Kebijakan ini baru dihapuskan pada 2005, 7 thn setelah Krisis melanda Asia.



 kredit to Berwin